Dunia yang Menipu
Contoh-contoh yang tidak terhitung banyaknya dari kesempurnaan penciptaan mengelilingi manusia di seluruh dunia: daratan-daratan yang indah, jutaan jenis tumbuhan yang berbeda, langit yang biru, awan-awan yang diberati hujan, atau tubuh manusia -- sebuah organisme sempurna yang dipenuhi sistem yang kompleks. Ini semua adalah contoh luar biasa dari penciptaan, gambaran yang memberikan pengetahuan yang dalam.
Menatap seekor kupu-kupu menunjukkan sayapnya, dengan pola-pola sangat rumit yang menyatakan identitasnya, adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Bulu-buku kepala seekor burung, yang begitu indah dan cemerlang hingga mereka terlihat seperti beludru hitam yang mewah, atau warna-warna menarik dan harumnya sekuntum bunga, seluruhnya mengagumkan jiwa manusia.
Setiap manusia, hampir tanpa kecuali, menghargai wajah yang cantik. Rumah besar yang mewah, perabotan berlapis emas dan mobil mewah bagi sebagian manusia adalah harta benda yang paling dipuja. Manusia menginginkan banyak hal dalam hidupnya, namun kecantikan dari apa pun yang kita miliki ditakdirkan lenyap pada waktunya.
Di dalam Al Quran, wahyu otentik terakhir yang tersisa, yang membimbing manusia kepada jalan yang benar, Allah berulang kali mengingatkan kita akan sifat fana dunia ini, memanggil kita kepada kejernihan pikiran dan kesadaran. Tentu saja, di mana pun kita tinggal, kita semua rentan terhadap dampak-dampak yang menghancurkan dari dunia ini, sebuah fenomena yang menjelaskan dirinya sendiri bagi orang-orang yang mengamati kehidupan dan berbagi kejadian di sekitar kita. Ini sama halnya untuk segala keindahan yang mengelilingi kita. Gambar di halaman ini masing-masingnya menunjukkan fakta ini. Setiap sudut dunia betapa pun mengesankannya, akan rusak dalam beberapa dasawarsa, terkadang bahkan dalam jangka waktu yang lebih singkat daripada yang diperkirakan. |
Buah perlahan-lahan berubah warna menjadi gelap dan akhirnya menjadi busuk dari saat ia dipetik dari batangnya. Harumnya bunga yang mengisi ruangan kita terbatas waktunya. Segera, warna mereka menghilang dan mereka layu. Wajah yang paling cantik berkeriput setelah beberapa puluh tahun: efek bertahun-tahun pada kulit dan berubahnya rambut menjadi abu-abu membuat wajah yang cantik tersebut tidak berbeda dari orang-orang tua lainnya. Tidak tertinggal jejak pipi kemerahan yang sehat milik seorang remaja setelah berlalunya waktu bertahun-tahun. Bangunan membutuhkan renovasi, kendaraan menjadi ketinggalan jaman dan, bahkan lebih buruk lagi, berkarat. Singkatnya, segala yang mengelilingi kita akan digerogoti waktu. Sebagiannya terlihat seperti "proses alami". Bagaimanapun, hal ini menyampaikan sebuah pesan yang jelas: "tidak ada satu pun yang kebal terhadap pengaruh waktu".
Di atas segalanya, setiap tumbuhan, binatang, dan manusia di dunia dengan kata lain, setiap mahkluk hidup tidaklah kekal. Fakta bawa populasi dunia tidak mengecil selama berabad-abad karena banyaknya kelahiran seharusnya tidak membuat kita mengabaikan kematian.
Namun sebagai sebuah keinginan yang tidak terkendali, bujukan harta benda dan kekayaan sangat memengaruhi manusia. Nafsu akan harta benda tanpa disadari menguasainya. Bagaimanapun, ada satu poin yang harus dipahami: Allah-lah pemilik satu-satunya atas segala sesuatu. Makhluk hidup tetap hidup selama Ia kehendaki dan mereka mati begitu Ia menetapkan kematian mereka.
Segala sesuatu di muka bumi ditakdirkan untuk musnah. Inilah sifat kehidupan
duniawi yang sebenarnya... |
Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan hal ini dalam ayat berikut:
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tandatanda kekuasaan kepada orang-orang berfikir. (QS. Yunus, 10: 24)
Dalam ayat ini, ditunjukkan bahwa segala sesuatu yang terlihat indah dan cantik di bumi ini akan kehilangan keindahannya suatu saat. Lebih jauh lagi, mereka seluruhnya akan lenyap dari muka bumi ini. Ini sebuah poin penting untuk direnungkan karena Allah memberitahu kita bahwa Ia memberikan contoh-contoh demikian "bagi mereka yang berpikir". Sebagai makhluk yang dapat berpikir, manusia diharapkan memikirkan dan mengambil pelajaran dari aneka peristiwa dan akhirnya menetapkan tujuan rasional bagi hidupnya. "Pikiran" dan "pemahaman" adalah sifat khas manusia; tanpa sifat-sifat ini manusia kehilangan ciri yang paling khusus dan menjadi lebih rendah daripada binatang. Binatang pun menjalani kehidupan seperti manusia dalam banyak hal: mereka bernafas, berkembang biak, dan pada suatu hari, mati. Binatang tidak pernah berpikir mengapa dan bagaimana mereka dilahirkan, atau bahwa mereka akan mati pada suatu hari. Sangat wajar bila mereka tidak berusaha memahami tujuan hidup ini yang sesungguhnya; mereka tidak diminta memikirkan tujuan penciptaan mereka atau tentang sang Pencipta.
Dan berilah perumpamaan kepada mereka, kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Kahfi, 18: 45)
Namun, manusia bertanggung jawab kepada Allah untuk membangun kesadaran terhadap Allah melalui perenungan dan kesadaran akan perintah-Nya. Lebih lanjut, ia hendaknya memahami bahwa dunia ini ada hanya untuk waktu yang terbatas. Mereka yang benar-benar memahami fakta ini akan mencari tuntunan dan cahaya Allah dengan melakukan amal-amal baik.
Bila tidak, manusia akan menemui penderitaan baik di dunia dan di akhirat. Ia menjadi kaya, namun tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Kecantikan dan ketenaran biasanya membawa kemalangan, bukannya hidup yang menyenangkan. Seorang pesohor misalnya, pada suatu saat bersenang-senang dalam pujaan penggemarnya, namun kemudian berperang dengan masalah kesehatan yang parah, dan pada suatu hari meninggal seorang diri dalam sebuah kamar hotel yang kecil tanpa seorang pun yang merawatnya.
Contoh-Contoh dalam Al Quran Mengenai Tipuan Dunia
Allah berulang kali menekankan dalam Al Quran bahwa dunia hanyalah "tempat di mana segala kesenangan ditetapkan untuk musnah". Allah menceritakan kisah-kisah berbagai bangsa, laki-laki, dan wanita di masa lampau yang bersenang-senang dalam kekayaan, ketenaran, atau status sosialnya, namun menemui akhir yang mencelakakan. Hal tersebut seperti dua orang laki-laki yang diceritakan dalam surat Al Kahfi:
Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.
Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat."
Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu."
Kawannya berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku: Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH’. Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku yang lebih baik dari pada kebunmu; dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan dari langit kepada kebunmu; hingga menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi."
Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: "Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku." Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.
Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan. Dan berilah perumpamaan kepada mereka, kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha-kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
( QS. Al Kahfi, 18: 32-46)
Menyombongkan kekayaan akan membuat seseorang menjadi menggelikan. Ini adalah ketetapan Allah yang tidak berubah. Kekayaan dan kekuasaan adalah pemberian Allah dan dapat diambil kembali, kapan pun. Kisah "orang-orang surga" yang diceritakan dalam Al Quran adalah contoh yang lainnya:
Sesungguhnya Kami telah men-cobai mereka sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetiknya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan, lalu kebun itu diliputi malapetaka dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil memanggil di pagi hari: "Pergilah di waktu pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya".
Maka pergilah mereka saling berbisik-bisik. "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu."
Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).
Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)."
Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?"
Mereka mengucapkan: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."
Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela. Mereka berkata: "Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas."
Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.
Seperti itulah azab. Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.
(QS. Al Qalam, 68: 17-33)
Mereka yang penuh perhatian akan segera mengenali dari ayat-ayat ini bahwa Allah tidak memberikan contoh tentang manusia ateis dalam kisah ini. Mereka yang dibicarakan di sini adalah yang sungguh-sungguh percaya kepada Allah namun hatinya telah menjadi lalai dari mengingat-Nya dan tidak bersyukur kepada Penciptanya. Mereka berbangga diri akan harta benda yang telah Allah berikan kepada mereka sebagai nikmat, dan benar-benar melupakan bahwa harta benda ini hanyalah sumber penghasilan yang harus digunakan dalam jalan-Nya. Umumnya, mereka mengakui keberadaan dan kekuasaan Allah; namun hati mereka penuh dengan kesombongan, ambisi, dan keegoisan.
Kisah Qarun, salah seorang umat Nabi Musa, diceritakan dalam Al Quran sebagai sebuah contoh mendasar dari karakter duniawi manusia yang kaya. Baik Qarun maupun orang-orang yang menginginkan status dan kekayaannya adalah orang-orang beriman yang membuang agama mereka untuk harta benda dan karenanya kehilangan hidup kekal yang diberkahi, yang kerugiannya adalah kerugian yang abadi:
Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri."
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.
Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar."
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar."
Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang membela.
Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata: "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari."
Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
(QS. Al Qashas, 28: 76-84)
Kekeliruan utama Qarun adalah menganggap dirinya sebagai suatu keberadaan terpisah dan terlepas dari Allah. Memang, sebagaimana yang disebutkan ayat tersebut, ia tidak mengingkari keberadaan Allah, namun menganggap dirinya karena keutamaannya berhak mendapatkan kekuasaan dan kekayaan yang dilimpahkan Allah atasnya. Namun, seluruh manusia di dunia adalah hamba Allah dan harta benda mereka tidak diberikan hanya karena mereka berhak mendapatkannya. Segala yang diberikan kepada manusia adalah nikmat dari Allah. Apabila menyadari fakta ini, seseorang tak akan bersikap tidak berterima kasih dan durhaka kepada Penciptanya dikarenakan kekayaan yang dimilikinya. Ia hanya akan merasa bersyukur dan menunjukkan rasa syukurnya ini dengan sikap yang baik kepada Allah. Ini adalah jalan yang paling baik dan mulia untuk menunjukkan rasa syukur seseorang kepada Allah. Sebaliknya, Qarun dan orang-orang yang ingin menjadi seperti Qarun menyadari jalan kejahatan yang mereka lakukan hanya saat kehancuran menimpa mereka. Jika setelah segala kehancuran menimpa, mereka tetap ingkar dan memberontak kepada Allah, mereka akan dibinasakan sepenuhnya. Untuk mereka sebuah akhir yang tidak akan terhindarkan: neraka, sebuah tempat tinggal yang sangat buruk!
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadiid, 57: 20)